Rabu, 04 Maret 2015

Singaparna dan Perebutan Gelar Juara

"Pertandingan antara Pesilat bernama ... vs ... dimenangkan oleh Pesilat yang menempati sudut?" Pertanyaan tersebut menjadi sangat familiar di telinga kami (para pendekar dari SMP Juara), pasalnya pada pekan ketiga Bulan Februari lalu, enam orang pendekar yang sudah lama berlatih pencak silat di SMP Juara, terpilih untuk mewakili SMP Juara dalam Pertandingan Pencak Silat antar Pelajar se-Pulau Jawa. Pertandingan ini dilaksanakan di Gelora Sukapura, Tasikmalaya dan dilaksanakan selama kurang lebih sepekan, dimulai dari tanggal 17 - 21 Februari, dan diikuti oleh sekitar 400 orang pesilat dari tingkat SD, SMP dan SMA.

Sejak dimulainya babak penyisihan, setiap pertandingan yang dilalui terasa begitu menegangkan. Ilham Sudrajat mengawali pertandingan di babak penyisihan dengan sangat rapi, pesilat yang pernah meraih gelar Juara II tingkat Provinsi ini memenangkan pertandingan dengan gagah dan mendapat skor telak atas lawannya. Selanjutnya, Atep Ahmad Patoni, pesilat yang kini duduk di kelas 9 ini mempunyai kesan tersendiri terhadap pertandingan ini. Selain menjadi pengalaman pertamanya ikut serta dalam pertandingan silat, kesan lain didapatkannya karena pertandingan ini dilaksanakan di kampung halamannya, Tasikmalaya. Berbeda dengan Ilham, Atep memenangkan pertandingan dengan sangat dramatis. Diawali dengan tersungkur di babak pertama hingga harus dinyatakan kalah, Atep bangkit melawan kesakitan yang dirasakan akibat tendangan lawan yang mengenai uluh hatinya. Di babak kedua, Atep membalas kekalahannya dan dinyatakan menang, pertandingan dinyatakan draw dan dilakukanlah babak penentuan. Walaupun harus jatuh bangun, namun tekad yang kuat membawa Atep memenangkan pertandingan pertamanya ini. Pertandingan-pertandingan lainnya pun dilalui dengan baik, meskipun akhirnya Atep harus terhenti di babak perempat final.

Pesilat lainnya pun menunjukkan semangat yang sangat tinggi, selain Ilham dan Atep, Presiden OSIS SMP Juara, Ahmad Ibadurrahman menjadi salah satu pesilat yang didelegasikan untuk mengikuti pertandingan ini. Setiap pesilat mempunyai gaya khas masing-masing saat bertandingan, sebut saja Alma Maritza, pesilat wanita yang gagah ini selalu tampak kharismatik setiap menantang lawannya di gelanggang hijau. Dengan senyum manis berlesung pipi, Alma selalu terlihat tenang saat melakukan pertandingan. Selain Alma, pesilat wanita lainnya yang menjadi delegasi adalah Dika Amalia, pesilat yang masih duduk di bangku kelas 7 ini menjadi yang paling junior diantara pesilat lain dari SMP Juara. Sama seperti Atep, Dika terhenti di babak perempat final. Pesilat terakhir yang menjadi delegasi adalah Rizky Afryansyah, pesilat yang sehari-harinya kerap disapa "Ustadz" oleh teman-temannya ini memberikan kejutan dalam bertanding. Rizky yang biasanya kalem dan tidak banyak bicara ini, tampil begitu agresif dan sigap.

Tahun ini memang mereka masih menitipkan piala pada kontingen dari daerah lain, namun mereka menciptakan sejarah dalam hidup mereka yang tidak akan terlupakan. Lima hari di Kota Tasik dengan bermacam kejadian menorehkan kesan tersendiri bagi mereka. Belum lagi perjuangan mempersiapkan pertandingan dengan latihan rutin yang cukup padat selama kurang lebih empat bulan. Semoga kelak piala yang dititipkan itu akan menjadi milik mereka. Aamiin.

Rabu, 25 Februari 2015

Periode Baru "Atikan Sunda"

Tak terasa, berakhir sudah masa kepemimpinan Deva Ilhamda Putra di Klub Atikan Sunda SMP Juara Bandung. Pada tanggal 13 Februari lalu, Hadian Maulana resmi dilantik menjadi Ketua Atikan Sunda yang baru, periode 2015-2016 menggantikan Deva. Hadian dipilih langsung oleh seluruh anggota Atikan Sunda dari kelas 7, 8 dan 9, yang berjumlah sekitar 64 orang. Hadian mengungguli rivalnya, Rifki Arif yang juga terpilih menjadi calon Ketua Atikan Sunda.

Acara pemilihan Ketua Atikan Sunda ini dirancang dengan rapi oleh Pengurus Atikan Sunda periode 2014-2015 yang dipimpin oleh Deva. Dimulai dengan rapat pemilihan calon ketua yang dihadiri oleh anggota Atikan Sunda kelas 9. Setelah itu, kami melakukan sosialisasi kepada seluruh anggota Atikan Sunda tentang pemilihan ketua baru beserta pengumuman calon ketuanya. Di hari berikutnya, kami melakukan voting untuk memilih ketua baru Atikan Sunda. Voting ini dilakukan dengan cara menuliskan nama calon ketua disebuah kertas yang dibagikan kepada seluruh anggota. Setelah pemilihan selesai, pengurus lama beserta anggota lainnya melakukan penghitungan suara dan terpilihlah Hadian sebagai Ketua Baru Atikan Sunda. Ada yang unik dalam pengumuman hasil voting, Deva sebagai Ketua Atikan Sunda mengumumkan hasil pemilihan tidak secara lisan tapi dengan cara menyematkan "totopong" kepada ketua terpilih.

Rangkaian kegiatan ini ditutup dengan perpisahan yang dilakukan oleh pengurus lama, untuk melaksanakan perpisahan ini kami mengadakan mabit yang terakhir kalinya. Inti dari kegiatan ini adalah menyediakan waktu untuk mengutarakan hal-hal yang harus diucapkan dalam sebuah perpisahan. Acara ini berlangsung sendu, diawali dengan penayangan sebuah slide show yang berisi perjalanan Tim Atikan Sunda selama satu tahun terakhir, setelah itu beberapa anggota Atikan Sunda menyampaikan kesan selama berada di Atikan Sunda. Air mata mulai jatuh, saat Deva selaku Ketua menyampaikan permohonan maaf dan terima kasih kepada kami semua. Banyak sekali kenangan manis yang terukir dalam perjalanan Atikan Sunda periode 2014-2015 ini. Semoga kenangan ini akan tetap tersimpan rapi dalam benak kami.

Pemilihan dan Penghitungan Suara untuk Calon Ketua Atikan Sunda

Cag! Hurip Sunda!

Sabtu, 13 September 2014

SMP Juara Siap Memilih "Presiden" Baru

Dalam beberapa pekan lagi, Ro'fah Syahidah akan turun dari jabatannya sebagai Ketua OSIS SMP Juara Periode 2013-2014. Posisi ini akan digantikan oleh adik-adik kelasnya. Tidak hanya sosok Ketua OSISnya saja yang berubah, tapi nama jabatannya pun akan berubah. Kelak, Ketua OSIS di SMP Juara akan berganti nama menjadi Presiden OSIS. Perubahan nama ini sudah dipertimbangkan masak-masak oleh dewan guru.

Sebelum PEMILU berlangsung, para "Capres" ini diberi tantangan menulis sebuah esai yang berisi tentang motivasi dan visi serta misi mereka jika mereka terpilih menjadi Presiden OSIS nanti. Selain itu, mereka juga harus meminta tanda tangan 15 orang pengurus OSIS dalam waktu istirahat yang singkat, mereka juga diminta untuk mencari "tim sukses" untuk membantu mereka berkampanye. Yang paling menarik adalah proses kampanyenya sendiri. Setiap "Capres" bersama tim suksesnya berkeliling dari satu kelas ke kelas lainnya untuk meminta dukungan lewat pidatonya berisi paparan visi dan misi yang akan dilaksanakan jika terpilih nanti.

Siswa-siswa yang maju menjadi Calon Presiden OSIS berasal dari kelas 7 dan 8. Semua Calon Presiden mengajukan dirinya masing-masing untuk menjadi Presiden baru di SMP Juara. Alhamdulillah para "Capres" ini sudah mengantongi modal utama menjadi pemimpin, yaitu memiliki rasa percaya diri, semangat dan optimisme.

Calon Presiden OSIS SMP Juara Bandung Periode 2014-2015"

Siapakah yang akan terpilih? Tunggu tanggal mainnya!

Semoga siapapun yang terpilih, bisa memberi perubahan berarti ke arah yang lebih baik untuk SMP Juara tercinta ini. Aamiin.

Penyambutan Anggota Baru "Atikan Sunda"

Jum'at, 5 - 6 September 2014 Atikan Sunda SMP Juara mengadakan acara MABIT untuk menyambut anggota barunya. Acara ini diikuti oleh 66 orang siswa, 34 diantaranya adalah anggota baru. Dalam perjalanannya sejak tahun 2013, Atikan Sunda sudah memiliki dua generasi dan untuk menyambut generasi ketiga ini, Atikan Sunda mengadakan penyambutan yang berbeda dari generasi-generasi sebelumnya. Hal ini dilakukan untuk mempererat tali persaudaraan antar anggota, baik antara senior dan junior ataupun sesama rekan satu angkatan.

Selain untuk menyambut anggota baru, MABIT ini dilaksanakan untuk merumuskan program kerja dan penguatan ilmu "Kesundaan" untuk seluruh anggota "Atikan Sunda". Sebelum acara dimulai, beberapa anggota maupun calon anggota "Atikan Sunda" mengisinya dengan bermain congklak (permainan tradisional Sunda).

Acara dimulai sejak pukul 17.00 WIB, yang diawali dengan materi "Sejarah dan Profil Atikan Sunda SMP Juara" yang disampaikan langsung oleh Pembina Atikan Sunda yang disebut Ambu oleh semua anggota Atikan Sunda.

Setelah mendengar pemaparan tentang profil Atikan Sunda, acara dilanjutkan dengan Sholat Maghrib berjama'ah di mesjid yang dilanjutkan dengan tilawah dan makan malam bersama.

Setelah selesai makan malam, mereka kembali ke mesjid untuk melaksanakan Sholat Isya berjama'ah. Acarapun dilanjutkan dengan pemaparan materi tentang "Kesundaan" diantaranya sejarah Sunda, tata krama Sunda dan undak usuk Basa Sunda. Untuk materi ini, tim Atikan Sunda mengundang salah satu penulis dongeng Sunda yang tulisannya sering kita temui di beberapa majalah Sunda,dia adalah Kang Iwan M. Ridwan.

Akhirnya, malampun semakin larut, para anggota baru Atikan Sunda diperintahkan untuk tidur. Sementara itu, para seniornya menyiapkan acara jurit malam. Acara ini dilakukan di sekitar komplek yang tidak jauh dari sekolah. Jurit malam ini bertujuan untuk membangun keberanian, kerjasama dan loyalitas. Ada 3 pos yang disediakan, setiap pos terdiri dari bidang-bidang yang ada di Atikan Sunda itu sendiri. Diantaranya, Pos Bidang Aksara Sunda, Pos Bidang Seni dan Pos Bidang Atikan. Di Pos Bidang Aksara Sunda, setiap anggota diminta untuk menuliskan nama mereka masing-masing dengan Aksara Sunda dalam waktu 60 detik. Hal ini dilakukan untuk mengenalkan para anggota terhadap Aksara Sunda. Sementara itu, di Pos Bidang Seni, setiap anggota diminta menyanyikan salah satu lagu Sunda yang populer, namun setiap huruf vokal dalam liriknya diubah menjadi huruf "o". Akhirnya, lagu cingcangkelingpun terdengar lucu sekali. "congcongkolong monok congklong condoton... Begitulah seterusnya lagu itu didendangkan. Sedangkan Pos Atikan memiliki gaya sendiri, di pos ini para anggota ditanyai alasan "Mengapa mereka ingin bergabung dengan Atikan Sunda?". Hal ini bertujuan untuk mengetahui minat para anggota baru Atikan Sunda terhadap Bahasa dan Budaya Sunda yang menjadi tujuan utama didirikannya Atikan Sunda itu sendiri. Pada pukul 23.00 WIB para anggota baru dibangunkan dan diperintahkan berjalan menuju pos-pos yang disediakan tadi, acara ini berlangsung hingga pukul 01.30 dini hari.

Pagi harinya, setelah melaksanakan Sholat Subuh berjama'ah, semua anggota Atikan Sunda melaksanakan olahraga pagi sambil menunggu sarapan. Olahraga ini diisi dengan pertandingan bola tangan dan pertandingan futsal. Setelah olahraga selesai, semua anggota Atikan Sunda diberi "surprise" oleh Ambu Pembina. "Sakumna anggota Atikan Sunda baris! Dina hitungan 10 barisan kudu rapih!" Begitulah yang diucapkan Ambu untuk mengawali "surprise" nya. Untuk menciptakan ketegangan, setelah semua berada dalam barisan, mereka dibending terlebih dulu sebanyak 10 kali. Setelah itu, mereka diminta duduk dan menutup mata dengan perintah "apapun yang terjadi, tidak ada yang boleh pergi!". Hal ini dilakukan untuk menguji komitmen mereka. Saat keadaan dirasa sudah kondusif, mereka disiram air dari lantai 3. Alhamdulillah, semua basah dan semua memegang teguh komitmennya.

Tentu banyak hal-hal tidak terduga yang terjadi dalam acara MABIT ini, ada yang mengesankan ada juga yang mengagetkan. Ada yang menyenangkan, ada pula yang menyedihkan. Disini kami menjadi satu, sebuah keluarga besar.

Rabu, 12 Maret 2014

Syuting oh Syuting...

Incidious Season 71

Jum'at - Sabtu, 7 - 8 Maret 2014 menjadi hari yang amat mencekam untuk kelas Ibnu Majid. Berawal dari ajakkan beberapa siswa yang ingin melaksanakan MABIT untuk mengerjakan tugas SBK, yaitu membuat film pendek. Sebelum MABIT dilaksanakan, saya dan kelas Ibnu Majid membahas konsep dari film yang akan kita buat. Dengan latar sekolah, tersirat dalam pikiran kami untuk membuat film bergenre horor, ide ini langung disepakati oleh seluruh siswa. Diskusi kami tidak berakhir disitu, beberapa hari kemudian kami mendiskusikan lagi cerita yang akan kita sajikan dalam film ini. Muncul usul dari salah satu siswa untuk mengadaptasi film yang sudah ada. Dari sekian banyak judul film horor yang pernah ditayangkan di bioskop, akhirnya kami memilih salah satu film yang cukup fenomenal, yaitu Incidious 1.

Sebelum melaksanakan syuting film Incidious, kami mempersiapkan segala perlengkapannya. Mulai dari kamera (handycam), naskah, properti, make up sampai surat izin kepada orang tua telah siap edar. Hari yang ditunggu datang juga, pada hari Jum'at sepulang sekolah kami memulai kegiatan syuting ini dengan menonton film bersama di ruangan kelas Ibnu Majid, dalam rangka refreshing serta mencari inspirasi dan referensi. Setelah itu dilanjutkan dengan tilawah Qur'an di masjid SMP Juara, lalu Sholat Maghrib dan Isya berjama'ah dan ditutup dengan makan malam bersama.

Pada pukul 20.00 WIB, demi kelancaran acara ini, kami melakukan briefing, mengecek semua persiapan dan berdo'a bersama, syutingpun dimulai sekitar pukul 20.15 WIB. Semua pemain dan kru bergegas melakukan tugasnya masing-masing, diiringi dengan gemercik hujan yang disertai petir kami menuju ruangan pertama dan melakukan adegan pertama dengan setting di rumah keluarga tokoh utama. Ada pemandangan yang manis disini, karena hari sudah sangat gelap, ditambah hujan deras dan petir yang bergantian menyambar, membuat beberapa pemain merasa sedikit ketakutan. Sangat jelas terjadi pada beberapa pemeran hantu, karena takut dengan suasana yang terbangun, saat menunggu giliran berakting mereka berkali-kali membuka Al-Qur'an dan membacanya. Hal ini dirasa ampuh untuk menambah keberanian dan menentramkan hati yang sedang gusar. Subhanalloh...

Ternyata membuat film bukanlah pekerjaan mudah, membutuhkan kesiapan fisik dan mental. Selain menguras tenaga dan pikiran, pekerjaan ini juga melibatkan emosi. Awalnya, pengambilan gambar yang dilakukan sedikit demi sedikit, cukup membuat tersenyum bahkan mengundang tawa, terutama saat pemain yang sedang berakting, salah mengucapkan dialog atau salah melakukan gerakan. Namun, semakin malam tubuh semakin lelah, konsentrasi pun menurun, kadang hal menyenangkan tadi malah membuahkan kekesalan. Melihat hal ini, kami memutuskan untuk menghentikan syuting ini pada pukul 00.00 WIB. Hujan semakin deras, petir semakin sering menyambar, tidak memungkinkan lagi untuk melanjutkan syuting. Semua pemain dan kru bersiap-siap untuk pergi ke pulau mimpi, beralaskan lantai dan diselimuti genting (aduh lebay... :p) kami terlelap sekitar pukul 01.00 WIB.

Syuting dilanjutkan ba'da subuh saat hari masih gelap, selebihnya kami lakukan di dalam ruangan. Dibantu dengan kain-kain penutup, kami menutup semua jendela agar terlihat gelap, demi menciptakan suasana seperti malam hari. Syutingpun berakhir sekitar pukul 11. 00 siang hari diiringi dengan tepuk tangan dan senyum kelegaan dari semua pemain dan kru. Alhamdulillah... Setidaknya satu tugas berat sudah rampung, tinggal memoles film ini menjadi lebih menarik melalui proses editing. Selain untuk memenuhi tugas SBK, yang lebih penting adalah perjuangan ini mempererat persaudaraan dan kerjasama diantara kami. Malam panjang itu, menjelaskan kepribadian asli kami dan saat itulah kami belajar menahan emosi, menjaga ego, memahami serta menghargai teman dan saling melindungi. Semoga kerja keras ini membuahkan hasil yang maksimal dan semoga kami bisa menyuguhkan tontonan yang menghibur untuk semua orang. Nantikan tanggal mainnya di Mpret Tipi (he..hee)

Ibnu Majid Second Generation, IMajinative is Marvelous :)

Kru dan pemain Incidious 71 narsis di belakang layar

Yang paling narsis itu, ya para hantu

Ngaji dulu

Berdo'a bersama, supaya lancar

Ibnu Majid - IMajinative is Marvelous

Jumat, 21 Februari 2014

Hari Bahasa Ibu Internasional di SMP Juara

KIWARI BASA SUNDA GEUS DIPOHOKEUN

KIWARI BASA SUNDA TURUN KASTA

BUDAK NGORA ERA MAKE BASA SUNDA

TEU NGARTI KANA BASA SUNDA

SALAH SAHA? SALAH KURING? SALAH SALIRA? SALAH SAHA?

TIBAHEULA SUNDA MAH BEUNGHAR KU BASA

TAPI NAHA TINA LOBA BASA SUNDA, KURING NGAN NYAHO "KEHED"

NGAN BISA MAKE BASA SUNDA NU TEU KUDU DIPAKE

NGAN BISA NYEUNGSEURIKEUN JELEMA NU KEUR NGAMUMULE BASA SUNDA

SALAH SAHA? SALAH KURING? SALAH SALIRA? SALAH URANG KABEH!

TONG SEURI! MIKIR!

HAYU URANG MUMULE BASA SUNDA

BASA URANG, BASA URANG SUNDA

Hari ini, Jum'at 21 Februari 2014, seperti biasa seluruh siswa SMP Juara melaksanakan senam di pagi hari sebelum masuk kelas. Namun, ada yang berbeda pada Jum'at ini. Saat masuk gerakan pendinginan, tiba-tiba musik terhenti. Lalu, terdengar suara jimbe yang dipadukan dengan rebana. Dalam iringan itu, muncul seorang siswa yang meneriakkan bahwa saat ini Bahasa Sunda sudah dilupakan, dilanjutkan oleh siswa lainnya yang meneriakkan nada serupa. Ini adalah persembahan dari tim Atikan Sunda SMP Juara Bandung dalam rangka memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional. Persembahan ini berupa deklamasi berantai yang ditutup dengan nyanyian yang berjudul Sunda Sajati.

Hari besar ini memang belum banyak yang tahu. Padahal peringatan ini telah ditetapkan oleh UNESCO sejak lama dan jatuh setiap tanggal 21 Februari. Saat ini banyak bahasa daerah yang mati. Termasuk Bahasa Sunda, meskipun tidak bisa dikatakan mati, namun saat ini pemakai Bahasa Sunda sudah berkurang. Banyak pemuda dan remaja yang malu menggunakan Bahasa Sunda. Banyak pula orang tua yang tidak mau mengajarkan Bahasa Sunda kepada anak-anaknya. Itulah sebabnya, hal ini menjadi tugas kita bersama untuk melestarikan bahasa daerah kita. Melestarikan Bahasa Sunda yang menjadi ciri orang Sunda.

Bersama Atikan Sunda dan SMP Juara, mari kita lestarikan Bahasa dan Budaya Sunda. HURIP SUNDA!

Peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional di SMP Juara

Deklamasi

Menyanyikan Lagu Sunda Sajati

Tim Atikan Sunda SMP Juara

Persiapan di Belakang Layar

Sentuhan dari huruf ke huruf (hehe..he)

Rabu, 12 Februari 2014

Beribu Ekspresi di Try Out 6

Bu Mala datang membawa secarik kertas yang berisi daftar nilai Try Out 6 kelas IX yang dilaksanakan pekan lalu. Saat Bu Mala datang, siswa-siswa kelas IX sedang bersiap-siap untuk melaksanakan bimbel yang biasa dilakukan setiap hari Senin sampai Kamis. Begitu Bu Mala mengatakan ini adalah hasil Try Out 6, sontak sebagian besar siswa menghampiri Bu Mala untuk melihat nilainya masing-masing. Ada yang naik ada juga yang turun. Siswa yang nilainya naik dari Try Out sebelumnya terlihat sumringah dengan hasil yang diraihnya. Lain halnya dengan yang turun, beberapa terlihat sangat shock dan mengekspresikan kekecewaannya dengan terdiam dan bertanya-tanya "kok nilai saya turun ya?".

Perhatian saya tertuju pada seorang siswa akhwat yang sangat terpukul dengan hasil ini. Awalnya dia hanya bilang "Bu, nilai saya turun jauh. Kenapa ya?" Tak lama, ia pun menangis menunjukkan keterpukulannya. Saya ikut berempati pada anak ini, pasalnya, saya tahu anak ini sudah berusaha keras untuk meraih hasil terbaik. Ia belajar begitu serius, terutama dalam kelas. Sebelum Try Out dimulai, ia datang pada saya untuk menanyakan beberapa materi yang belum dipahaminya. Bahkan, ia meminta tips dan trik belajar yang baik pada wali kelasnya dan ia melaksanakan saran wali kelasnya ini dengan baik. Namun apa daya, usaha tersebut belum membuahkan hasil yang manis untuk anak ini. Entah apa penyebabnya, tapi hal ini membuktikan lagi bahwa tugas manusia hanyalah berusaha, mengenai hasil itu hanya urusan Allah. Apapun cara-Nya, Allah mempunyai rencana terbaik untuk hamba-Nya yang mau berusaha.

Tapi ada pemandangan indah dalam kejadian ini, saat anak ini menangis, teman-temannya tak henti menghiburnya. Ada yang bernyanyi, menghibur dengan kata ataupun hanya dengan membelainya, terlihat begitu eratnya kebersamaan mereka. Semoga di Ujian Nasional nanti, tidak ada lagi air mata ini di SMP Juara. Mereka masuk SMP Juara bersama-sama, berjuang bersama dan lulus pun harus bersama. Aamiin. :)